Sabtu, 04 Februari 2012
Sembari menggeliat Ann beranjak dari tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Ia pun pergi ke toilet untuk berwudhu. Setelah salat tahadjud, Ann membuka buku Intensive Course GO-nya dan mulai membuat coretan disana. “Yang satu ini hampir membuat kepalaku berasap,” gumamnya pada diri sendiri. Ann tidak menyerah, ia membuka sebuah buku teks lebar yang lebih tipis dari buku IC itu. Ketika ia menemukan sebuah pembahasan soal yang mirip dengan yang membuat kepalanya hampir berasap tersebut, ia tersenyum senang. “Akhirnya aku menaklukanmu,” bisiknya sambil tersenyum puas.
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
What Things Do You Know about Rheumatic?
What is Rheumatic?
Rheumatic is an inflammatory disease that occurs following a Streptococcus pyogenes infection, such as streptococcal pharyngitis or scarlet fever. Rheumatic can involve brain, joints, heart, and skin. The cause of this disease is antibody cross-reactivity. Acute rheumatic may happen in percentage of 20%, commonly appears in children between the ages of 6 and 15.
What is The Diagnoses for a Rheumatic?
According to Jones criteria, the diagnosis of rheumatic fever can be made when two of the major criteria, or one major criterion plus two minor criteria, are present along with evidence of streptococcal infection: elevated or rising antistreptolysin O titre or DNAase.
a. Major Criteria
- Polyarthritis: A temporary migrating inflammation of the large joints, usually starting in the legs and migrating upwards.
- Carditis: Inflammation of the heart muscle which can manifest as congestive heart failure with shortness of breath, pericarditis with a rub, or a new heart murmur.
- Subcutaneous nodules: Painless, firm collections of collagen fibers over bones or tendons. They commonly appear on the back of the wrist, the outside elbow, and the front of the knees.
- Erythema marginatum: A long lasting rash that begins on the trunk or arms as macules and spreads outward to form a snake like ring while clearing in the middle. This rash never starts on the face and it is made worse with heat.
- Sydenham's chorea (St. Vitus' dance): A characteristic series of rapid movements without purpose of the face and arms. This can occur very late in the disease for at least three months from onset of infection.
b. Minor criteria
- Fever of 38.2–38.9 °C (101–102 °F)
- Arthralgia: Joint pain without swelling (Cannot be included if polyarthritis is present as a major symptom)
- Raised erythrocyte sedimentation rate or C reactive protein
- Leukocytosis
- ECG showing features of heart block, such as a prolonged PR interval (Cannot be included if carditis is present as a major symptom)
- First Degree AV-Block
- Previous episode of rheumatic fever or inactive heart disease
c. Other Signs and Symtomps
- Abdominal pain
- Nose bleeds
- Preceding streptococcal infection: recent scarlet fever, raised antistreptolysin O or other streptococcal antibody titre, or positive throat culture.
d. Other Criterias
- Wegener's Granulomatosis – 1990 (now known as Granulomatosis with Polyangiitis)
- Takayasu Arteritis
- SclerodermaPolyarteritis
- Nodosa
- Osteoarthritis of the Knee
- Osteoarthritis of the Hand
- Osteoarthritis of the Hip
Chronic rheumatic conditions
- Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis is a chronic systemic disease that affects the joints, connective tissues, muscle, tendons, and fibrous tissue. It tends to to strike during the most productive years of adulthood, between the ages of 20 and 40, and is a chronic disabling condition often causing pain and deformity.
- Osteoarthritis
Osteoarthritis is a degenerative joint disease, which mainly affects the articular cartilage. It is associated with ageing and will most likely affect the joints that have been continually stressed throughout the years including the knees, hips, fingers, and lower spine region.
- Osteoporosis
Osteoporosis is a disease characterized by low bone mass and structural deterioration of bone tissue, leading to bone fragility and an increased susceptibility to fractures of the hip, spine, and wrist.
- Spinal Disorders
Spinal Disorders include trauma, mechanical injury, spinal cord injury, inflammation, infection, and tumour. About 80–85% of back pain episodes have no known cause.
- Severe limb trauma
Severe limb trauma that can result in permanent disability includes amputations, fractures, crushing injuries, dislocations, open wounds, blood vessel and nerve injuries.
Prevention
There is no cure for rheumatic fever once it has developed, although medications can be used to eradicate any remaining streptococcal infection and to control some of the symptoms.
Treatment consists of antibiotics, usually penicillin, bed rest, and aspirin or steroids. Aspirin may reduce fever, and relieve joint pain and swelling. Corticosteroids may be used if aspirin is inadequate.
Fortunately, recurrent streptococcal infections can be prevented very effectively with penicillin (Erythromycin may be substituted).
To prevent recurrent rheumatic fever in persons who have already had one episode, monthly injections of a long-lasting preparation of penicillin can be effective.
The risk of recurrence is higher in patients in whom the cardiac manifestations of acute rheumatic fever do not resolve, and those patients should receive antibiotic prophylaxis (protection) prior to dental or surgical procedures.
Physicians do not know how to slow the process that damages the heart valves. Therefore, preventing rheumatic fever is the most effective way to "treat" the disease.
The initial episode of rheumatic fever usually can be prevented by early treatment of streptococcal pharyngitis (strep throat) with antibiotics.
Is there Any Treatment for Rheumatic?
The management of acute rheumatic fever is geared toward the reduction of inflammation with anti-inflammatory medications such as aspirin or corticosteroids. Individuals with positive cultures for strep throat should also be treated with antibiotics. For instant, you can take some Aspirin. Aspirin is the drug of choice and should be given at high doses of 100 mg/kg/day. One should watch for side effects like gastritis and salicylate poisoning. In children and teenagers, the use of aspirin and aspirin-containing products can be associated with Reye's syndrome, a serious and potentially deadly condition. You have to consider the risk, benefits and alternative treatments in using this drug for children and teenagers. You also have to pay attention in using Ibuprofen for pain and discomfort and also corticosteroids for moderate to severe inflammatory reactions manifested by rheumatic fever, especially for children and teenagers. Steroids are reserved for cases where there is evidence of involvement of heart. The use of steroids may prevent further scarring of tissue and may prevent development of sequelae such as mitral stenosis. Monthly injections of longacting penicillin must be given for a period of five years in patients having one attack of rheumatic fever. If there is evidence of carditis, the length of Penidure therapy may be up to 40 years. Another important cornerstone in treating rheumatic fever includes the continual use of low-dose antibiotics (such as penicillin, sulfadiazine, or erythromycin) to prevent recurrence.
What is Rheumatic?
Rheumatic is an inflammatory disease that occurs following a Streptococcus pyogenes infection, such as streptococcal pharyngitis or scarlet fever. Rheumatic can involve brain, joints, heart, and skin. The cause of this disease is antibody cross-reactivity. Acute rheumatic may happen in percentage of 20%, commonly appears in children between the ages of 6 and 15.
What is The Diagnoses for a Rheumatic?
According to Jones criteria, the diagnosis of rheumatic fever can be made when two of the major criteria, or one major criterion plus two minor criteria, are present along with evidence of streptococcal infection: elevated or rising antistreptolysin O titre or DNAase.
a. Major Criteria
- Polyarthritis: A temporary migrating inflammation of the large joints, usually starting in the legs and migrating upwards.
- Carditis: Inflammation of the heart muscle which can manifest as congestive heart failure with shortness of breath, pericarditis with a rub, or a new heart murmur.
- Subcutaneous nodules: Painless, firm collections of collagen fibers over bones or tendons. They commonly appear on the back of the wrist, the outside elbow, and the front of the knees.
- Erythema marginatum: A long lasting rash that begins on the trunk or arms as macules and spreads outward to form a snake like ring while clearing in the middle. This rash never starts on the face and it is made worse with heat.
- Sydenham's chorea (St. Vitus' dance): A characteristic series of rapid movements without purpose of the face and arms. This can occur very late in the disease for at least three months from onset of infection.
b. Minor criteria
- Fever of 38.2–38.9 °C (101–102 °F)
- Arthralgia: Joint pain without swelling (Cannot be included if polyarthritis is present as a major symptom)
- Raised erythrocyte sedimentation rate or C reactive protein
- Leukocytosis
- ECG showing features of heart block, such as a prolonged PR interval (Cannot be included if carditis is present as a major symptom)
- First Degree AV-Block
- Previous episode of rheumatic fever or inactive heart disease
c. Other Signs and Symtomps
- Abdominal pain
- Nose bleeds
- Preceding streptococcal infection: recent scarlet fever, raised antistreptolysin O or other streptococcal antibody titre, or positive throat culture.
d. Other Criterias
- Wegener's Granulomatosis – 1990 (now known as Granulomatosis with Polyangiitis)
- Takayasu Arteritis
- SclerodermaPolyarteritis
- Nodosa
- Osteoarthritis of the Knee
- Osteoarthritis of the Hand
- Osteoarthritis of the Hip
Chronic rheumatic conditions
- Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis is a chronic systemic disease that affects the joints, connective tissues, muscle, tendons, and fibrous tissue. It tends to to strike during the most productive years of adulthood, between the ages of 20 and 40, and is a chronic disabling condition often causing pain and deformity.
- Osteoarthritis
Osteoarthritis is a degenerative joint disease, which mainly affects the articular cartilage. It is associated with ageing and will most likely affect the joints that have been continually stressed throughout the years including the knees, hips, fingers, and lower spine region.
- Osteoporosis
Osteoporosis is a disease characterized by low bone mass and structural deterioration of bone tissue, leading to bone fragility and an increased susceptibility to fractures of the hip, spine, and wrist.
- Spinal Disorders
Spinal Disorders include trauma, mechanical injury, spinal cord injury, inflammation, infection, and tumour. About 80–85% of back pain episodes have no known cause.
- Severe limb trauma
Severe limb trauma that can result in permanent disability includes amputations, fractures, crushing injuries, dislocations, open wounds, blood vessel and nerve injuries.
Prevention
There is no cure for rheumatic fever once it has developed, although medications can be used to eradicate any remaining streptococcal infection and to control some of the symptoms.
Treatment consists of antibiotics, usually penicillin, bed rest, and aspirin or steroids. Aspirin may reduce fever, and relieve joint pain and swelling. Corticosteroids may be used if aspirin is inadequate.
Fortunately, recurrent streptococcal infections can be prevented very effectively with penicillin (Erythromycin may be substituted).
To prevent recurrent rheumatic fever in persons who have already had one episode, monthly injections of a long-lasting preparation of penicillin can be effective.
The risk of recurrence is higher in patients in whom the cardiac manifestations of acute rheumatic fever do not resolve, and those patients should receive antibiotic prophylaxis (protection) prior to dental or surgical procedures.
Physicians do not know how to slow the process that damages the heart valves. Therefore, preventing rheumatic fever is the most effective way to "treat" the disease.
The initial episode of rheumatic fever usually can be prevented by early treatment of streptococcal pharyngitis (strep throat) with antibiotics.
Is there Any Treatment for Rheumatic?
The management of acute rheumatic fever is geared toward the reduction of inflammation with anti-inflammatory medications such as aspirin or corticosteroids. Individuals with positive cultures for strep throat should also be treated with antibiotics. For instant, you can take some Aspirin. Aspirin is the drug of choice and should be given at high doses of 100 mg/kg/day. One should watch for side effects like gastritis and salicylate poisoning. In children and teenagers, the use of aspirin and aspirin-containing products can be associated with Reye's syndrome, a serious and potentially deadly condition. You have to consider the risk, benefits and alternative treatments in using this drug for children and teenagers. You also have to pay attention in using Ibuprofen for pain and discomfort and also corticosteroids for moderate to severe inflammatory reactions manifested by rheumatic fever, especially for children and teenagers. Steroids are reserved for cases where there is evidence of involvement of heart. The use of steroids may prevent further scarring of tissue and may prevent development of sequelae such as mitral stenosis. Monthly injections of longacting penicillin must be given for a period of five years in patients having one attack of rheumatic fever. If there is evidence of carditis, the length of Penidure therapy may be up to 40 years. Another important cornerstone in treating rheumatic fever includes the continual use of low-dose antibiotics (such as penicillin, sulfadiazine, or erythromycin) to prevent recurrence.
Selasa, 15 November 2011
Best Friend in My Eyes
It is impossible for us to live without any friends, right? And each of us has our own criteria for a best friend. For me, a best friend is someone who always understands me whenever and wherever I am, and someone whom I can share my problems with. For instant, a best friend for me is a person who is reliable, easygoing, modest, and supportive. Also, a best friend can be a serious person. This person probably is an intelligent one. So, she or he can help you in learning something.
Now, I would tell you how reliable a best friend for me should be. She or he has to fulfill her/his promises. For example one friend of mine promises to treat me in a café. She has to fulfill that promise. But, if there is a strong reason that she cannot do it, I will forgive her. Again, if I share my problems with her, she will not tell it to other people.
A best friend is also an easygoing person. When I have a bad mood one day and I treat her bad, she is still able to forgive me. If I dirt her book un purposely, she can forget it and forgive me. If I borrow her money and I forget to return it on time, she is still able to smile at me.
A best friend is a modest person. When I am running out of money, she sincerely lends me her money. She even does not mind to pay for my lunch in the cafeteria. She never counts how much money she spends for me. And when I get a bad mark on the examination, she sits beside me and cheers me up.
She is also always besides me when I lose my spirit. She pumps my spirit up. She helps me to face my every hard days. She takes my hand and guides me to the way I should walk on.
That is all about a best friend in my eyes. But, it is hard to find someone who has those criteria.
Thanks for reading this post, guys! See you in the next pots
Keep spirit !
It is impossible for us to live without any friends, right? And each of us has our own criteria for a best friend. For me, a best friend is someone who always understands me whenever and wherever I am, and someone whom I can share my problems with. For instant, a best friend for me is a person who is reliable, easygoing, modest, and supportive. Also, a best friend can be a serious person. This person probably is an intelligent one. So, she or he can help you in learning something.
Now, I would tell you how reliable a best friend for me should be. She or he has to fulfill her/his promises. For example one friend of mine promises to treat me in a café. She has to fulfill that promise. But, if there is a strong reason that she cannot do it, I will forgive her. Again, if I share my problems with her, she will not tell it to other people.
A best friend is also an easygoing person. When I have a bad mood one day and I treat her bad, she is still able to forgive me. If I dirt her book un purposely, she can forget it and forgive me. If I borrow her money and I forget to return it on time, she is still able to smile at me.
A best friend is a modest person. When I am running out of money, she sincerely lends me her money. She even does not mind to pay for my lunch in the cafeteria. She never counts how much money she spends for me. And when I get a bad mark on the examination, she sits beside me and cheers me up.
She is also always besides me when I lose my spirit. She pumps my spirit up. She helps me to face my every hard days. She takes my hand and guides me to the way I should walk on.
That is all about a best friend in my eyes. But, it is hard to find someone who has those criteria.
Thanks for reading this post, guys! See you in the next pots
Keep spirit !
Selasa, 01 November 2011
Unforgettable Day
It
happened when I was in junior high school. I was on my way back home by a
public car. I was having my bad day at the time. When I looked inside my bag, I
found no money there. Actually I was with my friend. But, we sat separately. I was
in the middle seat and she was in the back one. When I was going to borrow her
money, suddenly she said,” please stop here,” she said loudly. She got out from
the car. My heart began to beat quickly.
Once
more again, I searched over my bag. Unfortunately, nothing was change. I still
could find no money there. I became more panic when the car was getting closer
to my house. “O God, please give me Your Miracle right now,” I humbled. Finally,
the car stopped just right in front of my house. A young girl with her office
uniform got out from the car. She looked at me and ask “you are Ana, right?”. “Yes,
I am,” I replied. She pay the transport fee for me. Oh, I was so relief and
thank God. It was an unforgettable day in my life.
Kamis, 27 Oktober 2011
Manfaat Puasa Secara Medis, Mental, Sosial, dan Psikologis
1. Manfaat secara medis
· Untuk menghilangkan atau detoksifikasi racun dalam tubuh
Jika diibaratkan sebagai sebuah gudang bahan makanan yang besar, yang dalam kesehariannya gudang tersebut selalu diisi dengan berkarung-karung beras, tetapi yang diambil selalu bagian atasnya saja, maka lama-kelamaan bagian yang di bawahnya akan membusuk. Begitu pula halnya dengan tubuh manusia. Penimbunan zat makanan akan jadi bahan beracun bagi tubuh.
Dengan berpuasa, kita dapat meminimalisir penimbunan makanan itu. Hal itu dapat dibuktikan dengan hal berikut. Ketika sahur dan berbuka, jangan memakan makanan dengan porsi yang berlebihan. Sehingga, penimbunan makanan di dalam tubuh terminimalisir.
· Puasa menyehatkan tubuh melalui proses peremajaan sel
Pada proses pencernaan manusia, gizi (makanan) yang kita masukkan ke dalam tubuh akan dicerna oleh usus. Salah satu gizi tersebut adalah protein. Pada proses pencernaan tersebut, protein menghasilkan sel-sel bagus sekaligus membentuk protein cacat yang merupakan sampah dalam tubuh.
Dalam tubuh ada proses autofagi, yaitu proses pencernaan dan pengeluaran sampah dari sel. Autofagi bekerja baik pada saat tubuh kelaparan. Kelaparan menyebabkan tumpukan protein cacat (sampah) didaurulang kembali menjadi sel-sel baru. Sehingga, semakin tubuh dibuat lapar, semakin baik kerja autofagi, dan semakin banyak daur ulang sel-sel yang rusak. Peremajaan sel itu membuat manusia sehat.
· Puasa menurunkan kadar gula dan kolesterol dalam darah
Puasa tentu saja mengurangi aktivitas makan kita. Sehingga kadar gula dalam darahterpelihara. Untuk itu penderita diabetes, obesitas (kegemukan), dan hiperkolesterol dianjurkan berpuasa.
· Puasa member perlindungan terhadap fungsi ginjal
Penghentian konsumsi air selama berpuasa sangat efektif dalam meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal sekaligus meminimalkan kadar air dalam darah. Ini memicu kerja mekanisme local pembuluh darah dan memicu fungsi kerja sel darah merah.
2. Manfaat secara mental
· Hasil penelitian nicolayev (psikiatri Moskow) menyebutkan bahwa puasa menyembuhkan penyakit kejiwaan lebih baik dari mengkonsumsi obat-obatan .
· Puasa menyembuhkan insomnia dan mengurangi rasa tidak percaya diri. Puasa mengajarkan kita untuk kuat/tegar dalam menjalani kehidupan.
· Puasa meningkatkan kecerdasan.
Ini berawal dari manfaatnya dalam mengurangi rasa tidak percaya diri seseorang. Puasa mengajarkan kita untuk kuat dan bersemangat, sehingga orang yang berpuasa bekerja lebih baik dan lebih berhasil dalam pekerjaannya.
3. Manfaat di bidang social
· Dengan berpuasa seseorang dapat menyisihkan sebagian uang untuk keperluan belanjanya. Dengan uang tersebut, ia dapat membantu orang-oarang yang kekurangan dan orang-orang yang membutuhkan.
· Puasa juga sebagian dari bentuk pengendalian diri. Pengendalian diri yang baik akan melahirkan jiwa yang sehat. Saat terbentuk jiwa-jiwa yang sehat akan terwujud lingkungan social yang menyenangkan.
· Mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Ini menimbulkan solidaritas kita kepada kaum muslim lain yang mengalami penderitaan, seperti kelaparan, kamiskinan, dan sebagainya.
· Puasa membiasakan kita untuk berbuat baik, tidak berkata-kata kotor, tidak melakukan ghibah, sehingga kerukunan bersaudara tidak tergangggu.
4. Manfaat secara psikologis
· Saat puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial antara manusia dan Sang Khalik. Kualitas dan kuantitas ibadah bertambah. Ini menyebabkan peningkatan pada komunikasi antar sesame manusia, yang kemudian melahirkan jiwa yang damai, tenteram, dan bahagia.
· Puasa melatih kesabaran, mengajari cara menguasai diri, menguatkan kemauan, dan memperkokoh ketaqwaan.
· Dengan berpuasa kita lebih termotivasi untuk berdzikir (mengingat Allah). Sebab, ketika berpuasa, otomatis kita menahan haus dan lapar. Ini mendorong kita untuk menyadari nikmat Allah dan menimbulkan keinginan untuk bersyukur.
Selasa, 25 Oktober 2011
My Childhood Memories
When I was a child, I used to have a short-cut hair. My father did not let me to lengthen my hair. Every time my hair was about to grow up, my father cut it off. And I always cry at that time.
I was a bed story freak when I was younger. Every night before going to bed, I loved listen to a story. I asked my father or my grandmother to do so. If they did not do that, I would stay awake the whole night.
Hide and seek was my favorite game. I and my sister and brother often did it in the evening. Sometimes we played it in the house, at another time we played it in the yard. I had a funny story about this! It was when we had a hide and seek game in the yard. I was the seeker. After searching all over the yard, I did not find both of my sister and brother. I asked Mom where they were. Finally, I found they were sleeping in their bedrooms. I hit them with a ruler. They got upset and the war began!
I used to eat while walking around the yard when I was a child too. My Mom gave fed me up. It was very hard for her to give me lunch. And do you know how did my Mom give me the meals? It was so crazy, I think. She followed me everywhere while I kept moving around with my bicycle. I just realize now, how terrible I was when I was a child.
I will never forget how mom cares me. I do promise to myself, that I will make her proud of me. I will do my best for her. I will create a smile on her face. I will make her become happy.
I know this is not as easy as pull-and-attack a hand, but I will fight for it. That is why, I am going to join the SNMPTN test once more. I am going to choose a medical program. O God, the One who has the whole powerful, the Who always listen to every single word comes from the creatures, please give me strength, ease, and chance to make her becomes happy.
Amiin .
NB: Please pray for me to do the SNMPTN test well and can be accepted in a medical faculty next year, alright? Thanks, guys J
DO YOUR BEST FOR THOSE WHO CARE WITH YOU, GUYS J
They are waiting for you to create a big smile on their faces J
Do not let a sadness tears fall down from their eyes, but let the happiness greets them…
Kamis, 20 Oktober 2011
Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung
MAKALAH
![]() |
Untuk memenuhi tugas praktik Bahasa Indonesia
Oleh
Ana Sakinah
NIS. 7919
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 SIJUNJUNG
2011
HALAMAN PENGESAHAN
Nama : Ana Sakinah
NIS : 7919
Kelas : XII (dua belas)
Jurusan : Ilmu Pengetahuan Alam
Judul Makalah : Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung
Muaro, Februari 2011
Guru Pembimbing
Oryza Sativa
NIP. 19620818 1985012 2 002
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung” ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas praktik bahasa Indonesia di kelas dua belas.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kritikan dan saran yang membangun penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi dunia pendidikan.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
ABSTRAK .............................................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
1.2.1 Apa itu media pembelajaran elektronik?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan gaya belajar?
1.2.3 Bagaimana pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa SMAN 1 Sijunjung?
1.2.4 Bagaimana cara mengatasi dampak negatif media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa SMAN 1 Sijunjung?
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................................... 2
BAB II KAJIAN TEORI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2.1 Teori Dasar........................................................................................................ 3
2.1.1 Pengertian media pembelajaran elektronik....................................................... 3
2.1.2 Definisi gaya belajar.......................................................................................... 4
2.2 Metodologi Penelitian ...................................................................................... 5
2.2.1 Jenis dan Teknik Penelitian .............................................................................. 5
2.2.2 Objek dan Fokus Penelitian .............................................................................. 5
2.2.3 Teknik Analisis Data ........................................................................................ 5
2.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan ..................................................................... 5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 12
5.2 Saran ....................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 13
ABSTRAK
Ana Sakinah. 2010. Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung. Makalah. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), SMA Negeri 1 Sijunjung.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang 1) pengertian media pembelajaran elektronik, 2) definisi gaya belajar, 3) dampak positif media pembelajaran elektronik, 4) dampak negatif media pembelajaran elektronik, dan 5) tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari dampak negatif media pembelajaran elektronik.
Dalam mendeskripsikan hasil penelitian, penulis menggunakan beberapa teori dasar (kajian teori), antara lain 1) definisi media pembelajaran elektronik, 2) definisi gaya belajar, dan 3) tindakan untuk menghindari dampak negatif media pembelajaran elektronik.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan angket dan studi literatur. Fokus penelitian dilakukan pada siswa SMA Negeri 1 Sijunjung, dengan mengambil sampel pada siswa kelas XII. Analisis data dilakukan dengan metode analitis deskriptif.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa media pembelajaran memiliki dampak positif dan negatif terhadap gaya belajar siswa. Selain itu, juga diperoleh langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari dampak negatif media pembelajaran elektronik.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung” ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas praktik bahasa Indonesia di kelas dua belas.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kritikan dan saran yang membangun penulis harapkan demi perbaikan di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi dunia pendidikan.
Nama : Ana Sakinah
NIS : 7919
Kelas : XII (dua belas)
Jurusan : Ilmu Pengetahuan Alam
Judul Makalah : Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa SMAN 1 Sijunjung
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa yang berupa alat. Selain itu media pembelajaran merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hasil belajar dan keefektifan komunikasi antara guru dan siswa ketika pembelajaran berlangsung.
Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis dan berkata, tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri- otak kanan. Aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret). Terdapat tiga tipe gaya belajar yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu visual (cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat), auditorial (belajar melalui apa yang mereka dengar) dan kinestetik (belajar melalui gerak dan sentuhan). Prestasi belajar masih tetap menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar. Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan gaya belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal.
Gaya belajar seorang siswa dengan siswa lain cenderung berbeda. Diperlukan media pembelajaran yang dapat melayani seluruh gaya belajar siswa, baik gaya belajar visual, auditorial, maupun kinestetis agar tujuan pembelajaran tercapai. Media pembelajaran elektronik menggunakan kombinasi ketiga gaya belajar tersebut dalam menyampaikan informasi kepada penggunanya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu media pembelajaran elektronik?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan gaya belajar?
1.2.3 Bagaimana pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran elektronik?
i. Apa dampak positif pemanfaatan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa?
ii. Apa dampak negatif pemanfaatan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa?
1.2.4 Bagaimana cara mengatasi dampak negatif media pembelajaran elektronik?
1.3 Tujuan Penelitian
Ada dua tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah untuk memenuhi tugas praktik bahasa Indonesia, sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui dampak pemanfaatan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa serta mencari solusi untuk dampak negatif pemanfaatan media pembelajaran elektronik.
2.4 Manfaat Penelitian
Ada pun manfaat penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui definisi dari media pembelajaran elektronik.
2. Mengetahui penjelasan dari gaya belajar.
3. Mengetahui dampak positif dan negatif dari pemanfaatan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar siswa.
4. Mencari solusi untuk dampak negatif dari pemanfaatan media pembelajaran elektronik.
BAB II
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Media Pembelajaran Elektronik
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990). Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware). Sedangkan menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media. Pengertian ini sejalan dengan batasan yang disampaikan oleh Gagne (1985), yang menyatakan bahwa media merupakan berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
Dalam dunia pendidikan, sering kali istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa dengan penggunaan alat bantu berupa media komunikasi, hubungan komunikasi akan dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Batasan media seperti ini juga dikemukakan oleh Reiser dan Gagne (dalam Criticos, 1996; Gagne, et al., 1988), yang secara implisit menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan komputer adalah merupakan media pembelajaran. Menurut National Education Association -NEA (dalam Sadiman, dkk., 1990), media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik yang tercetak maupun audio visual beserta peralatannya.
Berdasarkan batasan-batasan mengenai media seperti tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke pebelajar (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat pebelajar sedemikian rupa sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas) menjadi lebih efektif.
2. Posisi Media Pembelajaran
Bruner (1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam proses belajar mengajar sebaiknya terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua alat indera pebelajar. Semakin banyak alat indera yang terlibat untuk menerima dan mengolah informasi (isi pelajaran), semakin besar kemungkinan isi pelajaran tersebut dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan pebelajar. Jadi agar pesan-pesan dalam materi yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau pembelajaran berhasil dengan baik), maka pengajar harus berupaya menampilkan stimulus yang dapat diproses dengan berbagai indera pebelajar. Pengertian stimulus dalam hal ini adalah suatu “perantara” yang menjembatani antara penerima pesan (pebelajar) dan sumber pesan (pengajar) agar terjadi komunikasi yang efektif.
3. Fungsi Media Pembelajaran
Efektivitas proses belajar mengajar (pembelajaran) sangat dipengaruhi oleh faktor metode dan media pembelajaran yang digunakan. Keduanya saling berkaitan, di mana pemilihan metode tertentu akan berpengaruh terhadap jenis media yang akan digunakan. Dalam arti bahwa harus ada kesesuaian di antara keduanya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran. Walaupun ada hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan media, seperti: konteks pembelajaran, karakteristik pebelajar, dan tugas atau respon yang diharapkan dari pebelajar (Arsyad, 2002). Sedangkan menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran, hasil belajar, isi materi ajar, rangkaian dan strategi pembelajaran adalah kriteria untuk seleksi dan produksi media. Dengan demikian, penataan pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan belajar) yang dilakukan oleh seorang pengajar dipengaruhi oleh peran media yang digunakan.
Pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, meningkatkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan berpengaruh secara psikologis kepada siswa (Hamalik, 1986). Selanjutnya diungkapkan bahwa penggunaan media pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian informasi (pesan dan isi pelajaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam pembelajaran juga dikatakan dapat membantu peningkatan pemahaman siswa, penyajian data/informasi lebih menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Jadi dalam hal ini dikatakan bahwa fungsi media adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar.
Sadiman, dkk (1990) menyampaikan fungsi media (media pendidikan) secara umum, adalah sebagai berikut: (i) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual; (ii) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misal objek yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar, slide, dsb., peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film bingkai; (iii) meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif siswa; dan (iv) memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap isi pelajaran.
Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbul visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian diungkapkan bahwa fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang visual dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang visual tersebut. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah memberikan konteks kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara verbal).
Dengan menggunakan istilah media pengajaran, Sudjana dan Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam proses belajar siswa, yaitu: (i) dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa karena pengajaran akan lebih menarik perhatian mereka; (ii) makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan serta pencapaian tujuan pengajaran; (iii) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal melalui kata-kata; dan (iv) siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan, melakukan langsung, dan memerankan.
Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran elektronik dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pebelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pebelajar terhadap materi ajar.
4. Pengertian Media Pembelajaran Elektronik
Dikatakan oleh Darin E. Hartley bahwa: e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain. LearnFrame.com dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-learning adalah system pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand alone.
Pengertian e-learning menurut Maryati S.Pd., e-learning terdiri dari dua bagian yaitu e- yang merupakan singkatan dari elektronika dan learning yang berarti pembelajaran. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Terdapat kata "khususnya komputer" pada akhir kalimat yang member pengertian bahwa komputer termasuk alat elektronik disamping alat pembelajaran elektronik yang lain.
Menurut Maman Somantri, media elektronik adalah sebagai alat bantu pembelajaran, misalnya tape recorder dapat merekam suara guru untuk didengarkan di lain waktu, OHP mambantu guru tidak repot dengan kotornya spidol saat menulis di papan tulis dan mahasiswa dapat dengan mudah menggandakan slide tanpa susah mencatat. Komputer stand alone menyampaikan materi secara lebih interaktif dengan presentasi yang disertai dengan video dan gambar pendukung lainnya.
2.1.2 Pengertian Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. (Bobbi De Porter dan Mike Hernacki, 1992)
Gaya belajar adalah cara yang cenderung digunakan seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Terdapat empat kutub kecenderungan seseorang dalam proses belajar, antara lain:
a. Kutub Perasaan/Feeling (Concrete Experience)
Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan pada pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Dalam proses belajar, anak cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
b. Kutub Pemikiran/Thinking (Abstract Conceptualization)
Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi.dalam proses belajar, anak mengandalkan perencanaan sistematis serta mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah.
c. Kutub Pengamatan/Watching (Reflective Observation)
Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamatisebelum menilai, menyimak perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak menggunakan pikiran dan perasaannya dalam membentuk opini/pendapat.
d. Kutub Tindakan/Doing (Active Experimentation)
Anak belajar melalui tindakan. Cenderung memberikan pengaruh kepada orang lain melalui tindakannya.
(David Kolb, 1981).
Secara umum, ada tiga jenis gaya belajar yang dimiliki setiap orang:
a. Visual
Yaitu orang yang menerima informasi dari proses melihat atau membaca.
b. Auditorial
Yaitu orang yang menerima informasi dari apa yang ia dengar.
c. Kinestetik
Menerima informasi dari apa yang ia kerjakan atau ia sentuh secara langsung.
Sementara itu dari hasil penelitian yang dilakukannya, Rita Dunn menyebutkan bahwa:
1. Hanya 30% siswa mengingat 75% dari apa yang mereka dengar selama periode kelas normal.
2. Sebanyak 40% siswa menguasai apa yang mereka baca atau lihat.
3. 15% belajar paling baik dengan cara taktual. Mereka perlu menangani bahan-bahan, menulis, menggambar, dan terlibat dalam pengalaman langsung dalam hidup mereka.
4. 15% lainnya bersifat kinestetik. Mereka paling baik belajar dengan tindakan fisik.
Selain itu, M. Joko Susilo dalam bukunya Sukses dengan Gaya Belajar mengatakan, ada lima gaya belajar yang dimiliki setiap siswa:
1. Belajar dengan kata-kata
Gaya belajar ini cenderung mengahafalkan segala sesuatu. Setiap kali membaca, setiap kali menghafal, dan ingin melafadzkannya. Orang yang memiliki gaya belajar seperti ini, cenderung tidak bisa belajar di tempat yang tenang.
2. Belajar dengan pertanyaan
Gaya belajar ini menemukan dan menggali informasi dengan mengajukan pertanyaan terhadap materi pelajaran.
3. Belajar dengan gambar
Sebagian orang suka menggambar, melihat video, atau menonton film dalam belajar sesuatu.
4. Belajar dengan musik
Ada orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi musik.
5. Belajar dengan bergerak
Jika orang itu seorang olahragawan atau penari, maka ia lebih suka belajar dengan bergerak. Ia mudah dalam menerima informasi ketika ia melakukan gerakan.
2.2 Metodologi Penelitian
2.2.1 Jenis dan Teknik Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan angket dan studi literatur. Angket diisi oleh responden dengan keterangan yang sebenarnya. Terdapat 10 responden yang mengisi data kuisioner dalam penelitian ini.
2.2.2 Objek dan Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus kepada siswa SMA Negeri 1 Sijunjung. Penulis mengambil sampel pada kelas XII untuk mengetahui pendapat tentang dampak pemanfaatan media pembelajaran elek untuk mengetahui pernyataan tentang dampak pemanfaatan media pembelajaran elektronik terhadap gaya belajar.
2.2.3 Teknik Analisis Data
Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan data yang diolah adalah data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari pengamatan tidak langsung.
2.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pengertian Media Pembelajaran Elektronik
Media pembelajaran elektronik adalah seperangkat alat elektronik yang dipergunakan untuk meyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Media pembelajaran elektronik sangat membantu para pengajar dalam menjelaskan materi pelajaran kepada siswanya. Hal yang sama juga terjadi pada pelajar, mereka juga lebih mudah menerima dan memahami pelajaran dengan adanya media elektronik.
Alasan mengapa media elektronik sangat membantu proses pembelajaran antara lain:
1. Media elektronik merupakan media yang membuat konsep abstrak menjadi nyata. Hal ini dapat dicontohkan pada pelajaran kimia, misalnya tentang atom. Atom sebagaimana kita telah tahu, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sementara untuk membuat siswa paham tentang atom, diperlukan gambaran nyata tentang atom tersebut. Media elektronik dapat melakukannya.
2. Dengan memanfaatkan media elektronik dalam proses pembelajaran, siswa dapat dengan langsung melihat bahkan menggunakan benda-benda berbahaya. Misalnya dalam pratikum kimia. Zat-zat kimia yang berbahaya tentu tidak mungkin digunakan siswa tanpa bimbingan guru atau pembimbing yang profesional. Ini akan menghambat rasa keingintahuan siswa tentang zat-zat tersebut. Dengan media pembelajaran elektronik, siswa dapat menggunakan zat kimia tersebut secara tidak langsung melalui program pembelajaran yang disediakan media pembelajaran elektronik.
3. Media elektronik menghadirkan objek yang besar di dalam proses pembelajaran. Contohnya pada pelajaran geografi tentang kelautan. Tentu tidak mungkin untuk mengamati laut secara dekat saat proses pembelajaran berlangsung. Ketika ada media pembelajaran elektronik, siswa dapat melihat secara dekat gambar laut tersebut melalui slide bergambar.
4. Media elektronik dapat memperlihatkan kepada siswa gerakan yang terlalu cepat. Misalnya pada gerak roket.
5. Siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Ini dapat dicontohkan pada pelajaran sosiologi. Ketika guru menyuruh siswanya untuk memperhatikan dan menyimpulkan bagaimana cara orang berinteraksi di pasar. Siswa tidak harus pergi ke pasar untuk menyaksikannya, cukup dilihat dalam video.
6. Membangkitkan motivasi belajar. Media elektronik memungkinkan penggunanya untuk terhubung dengan jaringan internet. Dari sana, siswa dapat mencari, menyaksikan dan mendengar materi pelajaran apa saja yang mereka butuhkan. Sehingga para siswa menjadi termotivasi untuk terus menggali informasi materi pelajaran.
7. Materi pelajaran yang diberikan melalui media pembelajaran elektronik dapat disimpan dan dilihat kembali. Berbeda dengan media pembelajaran manual, jika guru menggunakan media pembelajaran elektronik, ia dapat menyimpan materi itu dan memberikannya atau menerangkannya kemabali kapanpun ia butuh.
Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam pembelajaran ke arah paradigma konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak begitu saja bisa ditransfer oleh guru ke pikiran siswa, tetapi pengetahuan tersebut dikonstruksi di dalam pikiran siswa itu sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pebelajar sebaiknya secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar, berupa lingkungan. Lingkungan yang dimaksud (menurut Arsyad, 2002) adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam sekitar).
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/pebelajar atau mungkin juga guru). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar (Sadiman, dkk., 1990).
Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif dan efisien. (Gagne, 1985)
Pengertian Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis dan berkata tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri- otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret). Ketika seseorang telah menyadari bagaimana ia menerima dan menyerap informasi, ia akan lebih mudah belajar dan berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Fungsi media, khususnya media visual juga dikemukakan oleh Levie dan Lentz, seperti yang dikutip oleh Arsyad (2002) bahwa media tersebut memiliki empat fungsi yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Dalam fungsi atensi, media visual dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran. Fungsi afektif dari media visual dapat diamati dari tingkat “kenikmatan” siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. Dalam hal ini gambar atau simbul visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian diungkapkan bahwa fungsi kognitif media visual melalui gambar atau lambang visual dapat mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan/informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang visual tersebut. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah memberikan konteks kepada siswa yang kemampuannya lemah dalam mengorganisasikan dan mengingat kembali informasi dalam teks. Dengan kata lain bahwa media pembelajaran ini berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dalam bentuk teks (disampaikan secara verbal).
Berdasarkan keempat fungsi media visual tersebut, jelaslah bahwa media pembelajaran elektronik visual dapat membantu para pelajar yang bersifat visualis (memiliki kecenderungan menerima informasi lebih baik saat melihat langsung kepada objek). Ini dapat kita lihat pada media pembelajaran berupa slide. Siswa dengan gaya belajar visual terbantu dengan adanya gambaran langsung dari materi pelajaran pada slide.
Sudjana dan Rivai (1992) mengemukakan beberapa manfaat media dalam proses belajar siswa, diantaranya siswa lebih banyak melakukan aktivitas selama kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan, melakukan langsung, dan memerankan. Dapat dijelaskan bahwa, dengan memanfaatkan media pembelajaran elektronik, siswa yang kinestetis (cenderung menerima informasi lebih baik saat melakukannya langsung) dapat terbantu. Hal ini dikarenakan media pembelajaran elektronik memungkinkan siswa melihat gerakan objek dari materi pelajaran yang dijelaskan. Misalnya materi biologi tentang sendi gerak. Siswa kinestetis dapat langsung melihat peragaan gerak sendi. Dengan kata lain, ketika ia melihat peragaan gerak sendi itu, seolah-olah ia telah melakukan gerakan tersebut. Akibatnya materi pelajaran dapat ia pahami.
Sementara untuk siswa dengan gaya belajar audiotori, ia dapat terbantu dengan adanya video atau CD interaktif yang langsung menjelaskan materi pelajaran. Ia tidak perlu lagi membaca materi pelajaran, hal yang tidak disukainya. Disamping itu, ia bisa belajar kapan saja dengan mendengarkan rekaman materi pelajaran tersebut.
Media pembelajaran elektronik melayani gaya belajar setiap siswa. Siswa visualis dapat melihat langsung objek yang dibahas pada saat pembelajaran. Media pembelajaran elektronik juga mempermudah siswa audiotori dalam menerima dan memproses materi pelajaran dengan adanya rekaman/video materi pelajaran. Sementara, siswa kinestetis terbantu dengan adanya video gerakan langsung dari materi pelajaran. Sehingga, seluruh siswa bisa memahami pelajaran dengan adanya media pembelajaran elektronik.
Jika dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukannya, Rita Dunn yang menyebutkan bahwa:
1. hanya 30% siswa mengingat 75% dari apa yang mereka dengar selama periode kelas normal;
2. sebanyak 40% siswa menguasai apa yang mereka baca atau lihat;
3. 15% belajar paling baik dengan cara taktual. Mereka perlu menangani bahan-bahan, menulis, menggambar, dan terlibat dalam pengalaman langsung dalam hidup mereka;
4. dan 15% lainnya bersifat kinestetik. Mereka paling baik belajar dengan tindakan fisik, maka siswa yang paling banyak gagal adalah siswa kinestetis. Alasannya, pada pembelajaran tanpa media elektronik, guru cenderung menjelaskan pelajaran dan siswa duduk diam. Sementara siswa kinestetis butuh bergerak untuk memahami pelajaran dengan baik. Guru tersebut tidak mampu melayani seluruh gaya belajar siswa. Sebaliknya, bila pembelajaran menggunakan media elektronik, tidak ada siswa yang tidak terlayani. Karena, media elektronik menyuguhkan materi dengan merangkap ketiga cara siswa dalam menerima informasi (gaya belajar) sekaligus.
Dampak Penggunaan Media Pembelajaran Elektronik terhadap Gaya Belajar Siswa
a. Dampak Positif
Langganan:
Postingan (Atom)
