Sabtu, 04 Februari 2012
Sembari menggeliat Ann beranjak dari tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Ia pun pergi ke toilet untuk berwudhu. Setelah salat tahadjud, Ann membuka buku Intensive Course GO-nya dan mulai membuat coretan disana. “Yang satu ini hampir membuat kepalaku berasap,” gumamnya pada diri sendiri. Ann tidak menyerah, ia membuka sebuah buku teks lebar yang lebih tipis dari buku IC itu. Ketika ia menemukan sebuah pembahasan soal yang mirip dengan yang membuat kepalanya hampir berasap tersebut, ia tersenyum senang. “Akhirnya aku menaklukanmu,” bisiknya sambil tersenyum puas.
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
What Things Do You Know about Rheumatic?
What is Rheumatic?
Rheumatic is an inflammatory disease that occurs following a Streptococcus pyogenes infection, such as streptococcal pharyngitis or scarlet fever. Rheumatic can involve brain, joints, heart, and skin. The cause of this disease is antibody cross-reactivity. Acute rheumatic may happen in percentage of 20%, commonly appears in children between the ages of 6 and 15.
What is The Diagnoses for a Rheumatic?
According to Jones criteria, the diagnosis of rheumatic fever can be made when two of the major criteria, or one major criterion plus two minor criteria, are present along with evidence of streptococcal infection: elevated or rising antistreptolysin O titre or DNAase.
a. Major Criteria
- Polyarthritis: A temporary migrating inflammation of the large joints, usually starting in the legs and migrating upwards.
- Carditis: Inflammation of the heart muscle which can manifest as congestive heart failure with shortness of breath, pericarditis with a rub, or a new heart murmur.
- Subcutaneous nodules: Painless, firm collections of collagen fibers over bones or tendons. They commonly appear on the back of the wrist, the outside elbow, and the front of the knees.
- Erythema marginatum: A long lasting rash that begins on the trunk or arms as macules and spreads outward to form a snake like ring while clearing in the middle. This rash never starts on the face and it is made worse with heat.
- Sydenham's chorea (St. Vitus' dance): A characteristic series of rapid movements without purpose of the face and arms. This can occur very late in the disease for at least three months from onset of infection.
b. Minor criteria
- Fever of 38.2–38.9 °C (101–102 °F)
- Arthralgia: Joint pain without swelling (Cannot be included if polyarthritis is present as a major symptom)
- Raised erythrocyte sedimentation rate or C reactive protein
- Leukocytosis
- ECG showing features of heart block, such as a prolonged PR interval (Cannot be included if carditis is present as a major symptom)
- First Degree AV-Block
- Previous episode of rheumatic fever or inactive heart disease
c. Other Signs and Symtomps
- Abdominal pain
- Nose bleeds
- Preceding streptococcal infection: recent scarlet fever, raised antistreptolysin O or other streptococcal antibody titre, or positive throat culture.
d. Other Criterias
- Wegener's Granulomatosis – 1990 (now known as Granulomatosis with Polyangiitis)
- Takayasu Arteritis
- SclerodermaPolyarteritis
- Nodosa
- Osteoarthritis of the Knee
- Osteoarthritis of the Hand
- Osteoarthritis of the Hip
Chronic rheumatic conditions
- Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis is a chronic systemic disease that affects the joints, connective tissues, muscle, tendons, and fibrous tissue. It tends to to strike during the most productive years of adulthood, between the ages of 20 and 40, and is a chronic disabling condition often causing pain and deformity.
- Osteoarthritis
Osteoarthritis is a degenerative joint disease, which mainly affects the articular cartilage. It is associated with ageing and will most likely affect the joints that have been continually stressed throughout the years including the knees, hips, fingers, and lower spine region.
- Osteoporosis
Osteoporosis is a disease characterized by low bone mass and structural deterioration of bone tissue, leading to bone fragility and an increased susceptibility to fractures of the hip, spine, and wrist.
- Spinal Disorders
Spinal Disorders include trauma, mechanical injury, spinal cord injury, inflammation, infection, and tumour. About 80–85% of back pain episodes have no known cause.
- Severe limb trauma
Severe limb trauma that can result in permanent disability includes amputations, fractures, crushing injuries, dislocations, open wounds, blood vessel and nerve injuries.
Prevention
There is no cure for rheumatic fever once it has developed, although medications can be used to eradicate any remaining streptococcal infection and to control some of the symptoms.
Treatment consists of antibiotics, usually penicillin, bed rest, and aspirin or steroids. Aspirin may reduce fever, and relieve joint pain and swelling. Corticosteroids may be used if aspirin is inadequate.
Fortunately, recurrent streptococcal infections can be prevented very effectively with penicillin (Erythromycin may be substituted).
To prevent recurrent rheumatic fever in persons who have already had one episode, monthly injections of a long-lasting preparation of penicillin can be effective.
The risk of recurrence is higher in patients in whom the cardiac manifestations of acute rheumatic fever do not resolve, and those patients should receive antibiotic prophylaxis (protection) prior to dental or surgical procedures.
Physicians do not know how to slow the process that damages the heart valves. Therefore, preventing rheumatic fever is the most effective way to "treat" the disease.
The initial episode of rheumatic fever usually can be prevented by early treatment of streptococcal pharyngitis (strep throat) with antibiotics.
Is there Any Treatment for Rheumatic?
The management of acute rheumatic fever is geared toward the reduction of inflammation with anti-inflammatory medications such as aspirin or corticosteroids. Individuals with positive cultures for strep throat should also be treated with antibiotics. For instant, you can take some Aspirin. Aspirin is the drug of choice and should be given at high doses of 100 mg/kg/day. One should watch for side effects like gastritis and salicylate poisoning. In children and teenagers, the use of aspirin and aspirin-containing products can be associated with Reye's syndrome, a serious and potentially deadly condition. You have to consider the risk, benefits and alternative treatments in using this drug for children and teenagers. You also have to pay attention in using Ibuprofen for pain and discomfort and also corticosteroids for moderate to severe inflammatory reactions manifested by rheumatic fever, especially for children and teenagers. Steroids are reserved for cases where there is evidence of involvement of heart. The use of steroids may prevent further scarring of tissue and may prevent development of sequelae such as mitral stenosis. Monthly injections of longacting penicillin must be given for a period of five years in patients having one attack of rheumatic fever. If there is evidence of carditis, the length of Penidure therapy may be up to 40 years. Another important cornerstone in treating rheumatic fever includes the continual use of low-dose antibiotics (such as penicillin, sulfadiazine, or erythromycin) to prevent recurrence.
What is Rheumatic?
Rheumatic is an inflammatory disease that occurs following a Streptococcus pyogenes infection, such as streptococcal pharyngitis or scarlet fever. Rheumatic can involve brain, joints, heart, and skin. The cause of this disease is antibody cross-reactivity. Acute rheumatic may happen in percentage of 20%, commonly appears in children between the ages of 6 and 15.
What is The Diagnoses for a Rheumatic?
According to Jones criteria, the diagnosis of rheumatic fever can be made when two of the major criteria, or one major criterion plus two minor criteria, are present along with evidence of streptococcal infection: elevated or rising antistreptolysin O titre or DNAase.
a. Major Criteria
- Polyarthritis: A temporary migrating inflammation of the large joints, usually starting in the legs and migrating upwards.
- Carditis: Inflammation of the heart muscle which can manifest as congestive heart failure with shortness of breath, pericarditis with a rub, or a new heart murmur.
- Subcutaneous nodules: Painless, firm collections of collagen fibers over bones or tendons. They commonly appear on the back of the wrist, the outside elbow, and the front of the knees.
- Erythema marginatum: A long lasting rash that begins on the trunk or arms as macules and spreads outward to form a snake like ring while clearing in the middle. This rash never starts on the face and it is made worse with heat.
- Sydenham's chorea (St. Vitus' dance): A characteristic series of rapid movements without purpose of the face and arms. This can occur very late in the disease for at least three months from onset of infection.
b. Minor criteria
- Fever of 38.2–38.9 °C (101–102 °F)
- Arthralgia: Joint pain without swelling (Cannot be included if polyarthritis is present as a major symptom)
- Raised erythrocyte sedimentation rate or C reactive protein
- Leukocytosis
- ECG showing features of heart block, such as a prolonged PR interval (Cannot be included if carditis is present as a major symptom)
- First Degree AV-Block
- Previous episode of rheumatic fever or inactive heart disease
c. Other Signs and Symtomps
- Abdominal pain
- Nose bleeds
- Preceding streptococcal infection: recent scarlet fever, raised antistreptolysin O or other streptococcal antibody titre, or positive throat culture.
d. Other Criterias
- Wegener's Granulomatosis – 1990 (now known as Granulomatosis with Polyangiitis)
- Takayasu Arteritis
- SclerodermaPolyarteritis
- Nodosa
- Osteoarthritis of the Knee
- Osteoarthritis of the Hand
- Osteoarthritis of the Hip
Chronic rheumatic conditions
- Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis is a chronic systemic disease that affects the joints, connective tissues, muscle, tendons, and fibrous tissue. It tends to to strike during the most productive years of adulthood, between the ages of 20 and 40, and is a chronic disabling condition often causing pain and deformity.
- Osteoarthritis
Osteoarthritis is a degenerative joint disease, which mainly affects the articular cartilage. It is associated with ageing and will most likely affect the joints that have been continually stressed throughout the years including the knees, hips, fingers, and lower spine region.
- Osteoporosis
Osteoporosis is a disease characterized by low bone mass and structural deterioration of bone tissue, leading to bone fragility and an increased susceptibility to fractures of the hip, spine, and wrist.
- Spinal Disorders
Spinal Disorders include trauma, mechanical injury, spinal cord injury, inflammation, infection, and tumour. About 80–85% of back pain episodes have no known cause.
- Severe limb trauma
Severe limb trauma that can result in permanent disability includes amputations, fractures, crushing injuries, dislocations, open wounds, blood vessel and nerve injuries.
Prevention
There is no cure for rheumatic fever once it has developed, although medications can be used to eradicate any remaining streptococcal infection and to control some of the symptoms.
Treatment consists of antibiotics, usually penicillin, bed rest, and aspirin or steroids. Aspirin may reduce fever, and relieve joint pain and swelling. Corticosteroids may be used if aspirin is inadequate.
Fortunately, recurrent streptococcal infections can be prevented very effectively with penicillin (Erythromycin may be substituted).
To prevent recurrent rheumatic fever in persons who have already had one episode, monthly injections of a long-lasting preparation of penicillin can be effective.
The risk of recurrence is higher in patients in whom the cardiac manifestations of acute rheumatic fever do not resolve, and those patients should receive antibiotic prophylaxis (protection) prior to dental or surgical procedures.
Physicians do not know how to slow the process that damages the heart valves. Therefore, preventing rheumatic fever is the most effective way to "treat" the disease.
The initial episode of rheumatic fever usually can be prevented by early treatment of streptococcal pharyngitis (strep throat) with antibiotics.
Is there Any Treatment for Rheumatic?
The management of acute rheumatic fever is geared toward the reduction of inflammation with anti-inflammatory medications such as aspirin or corticosteroids. Individuals with positive cultures for strep throat should also be treated with antibiotics. For instant, you can take some Aspirin. Aspirin is the drug of choice and should be given at high doses of 100 mg/kg/day. One should watch for side effects like gastritis and salicylate poisoning. In children and teenagers, the use of aspirin and aspirin-containing products can be associated with Reye's syndrome, a serious and potentially deadly condition. You have to consider the risk, benefits and alternative treatments in using this drug for children and teenagers. You also have to pay attention in using Ibuprofen for pain and discomfort and also corticosteroids for moderate to severe inflammatory reactions manifested by rheumatic fever, especially for children and teenagers. Steroids are reserved for cases where there is evidence of involvement of heart. The use of steroids may prevent further scarring of tissue and may prevent development of sequelae such as mitral stenosis. Monthly injections of longacting penicillin must be given for a period of five years in patients having one attack of rheumatic fever. If there is evidence of carditis, the length of Penidure therapy may be up to 40 years. Another important cornerstone in treating rheumatic fever includes the continual use of low-dose antibiotics (such as penicillin, sulfadiazine, or erythromycin) to prevent recurrence.
Langganan:
Postingan (Atom)