Sabtu, 04 Februari 2012
Sembari menggeliat Ann beranjak dari tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Ia pun pergi ke toilet untuk berwudhu. Setelah salat tahadjud, Ann membuka buku Intensive Course GO-nya dan mulai membuat coretan disana. “Yang satu ini hampir membuat kepalaku berasap,” gumamnya pada diri sendiri. Ann tidak menyerah, ia membuka sebuah buku teks lebar yang lebih tipis dari buku IC itu. Ketika ia menemukan sebuah pembahasan soal yang mirip dengan yang membuat kepalanya hampir berasap tersebut, ia tersenyum senang. “Akhirnya aku menaklukanmu,” bisiknya sambil tersenyum puas.
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
Adzan subuh pun berkumandang. Ann segera menutup bukunya dan pergi ke mushallah. Di luar gelap sekali. Tapi Ann sudah terbiasa, jadi ia tidak merasa takut. Tapi tidak dengan anjing-anjing tetangganya yang gemar menggonggong setiap ada yang lewat di depan mereka. Ann berjalan mengendap-endap seperti seorang maling ayam. Seekor dachshund memandang Ann sambil menguap lebar. “Bagus. Lanjutkan saja tidurmu, si tukang gonggong. Itu baru namanya teman,” katanya pada anjing itu. Sepertinya si dachshund mengerti apa yang Ann katakan padanya. Ia pun menyalak. “Eiiits…diam!,” ucap Ann ketakutan. Dengan setengah berlari ia menjauhi si anjing.
Napas Ann memburu. Seorang ibu di mushallah sedang shalat sunnah rawatib. Ann menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Ia merasa lebih tenang setelah melakukan itu beberapa kali.
Ann pulang dari mushallah. Jantugnya berdebar tak karuan ketika harus lewat di depan anjing-anjing itu kembali. Ia menggumamkan sesuatu, berdoa supaya anjing-anjing itu tidak menyalakinya lagi. “Oh, ayolah, jangan membuatku takut, Teman. Nanti kalau aku sudah kaya kuberi kalian tulang paha ayam. Aku janji. Please, biarkan aku lewat,” kali ini ia merayu. Sebenarnya ia sangat ingin melempar anjing-anjing itu. Tapi kalu nanti mereka menyalak keras bagaimana? Ia akan sangat malu dilihat tetangga kos-nya, meskipun mereka ga keren-keren amat.
Tepat saat Ann membuka pintu, hujan turun dengan deras. Roommate-nya, Dy, mengganti posisi tidurnya. Ia membuka matanya sebentar, kemudian tidur kembali. Hujan menjadi obat untuk tidur nyenyak, tahu kan? Hehe.
Selesai membaca Al-Quran beberapa ayat, Ann pun mandi. Ia bernyanyi-nyanyi kecil menyambut hari itu. Kamis. Ia bersama Dy dan Ay berencana akan berwisata kuliner hari itu. Aha, ternyata itu yang membuatnya menyambut hari itu dengan bernyanyi (eh)?
Dy sudah bangun saat Ann keluar dari kamar mandi. “Lagi-lagi hujan,” ucapnya muram. “Sepertinya kita naik angkot hari ini,” tambahnya. “Sepertinya begitu,” balas Ann. Musim hujan memang sudah datang. Langit berawan dan terlihat putih bagai salju. Ann menyukai ini.
“Ayo berangkat,” seru Ann sambil menyandang ranselnya ke luar kamar. Tentu saja keduanya tidak lupa membawa payung. Saat keluar rumah, hujan seolah menyambut mereka dengan sumringah. Anjing tetangga tadi pagi tidak terlihat. Takut basah baragkali.
Untung saja dosen yang mengajar mereka pagi itu Ms. Ayu. Ia sedang naik haji, jadi mereka mendapat jam kosong. Oh tidak, hari itu mereka benar-benar tidak harus berpikir. Maksudnya, tak ada dosen mereka yang hadir hari itu. Dan Ann, bersama ketiga temannya, Dy, Ay, dan Sar benar-benar membuat lelucon gila. Ann yang membuat lelucon. Semalam ia membaca teenlit yang dipinjami temannya (ingat, temannya yang mau meminjamkan. Bukan dia yang “meminjam-minjam”). Di sana ia membaca ada dua anak kembar berusia lima tahun yang membuat kakaknya kebakaran rambut tiap hari. Misalnya seorang diantara mereka yang bernama Tom selalu merengek minta nonton VCD Disneyland tentang reproduksi binatang. Aish, dewasa sebelum waktunya tak baik, Tam! Lalu, saudaranya si Tim sering meminta yang aneh-aneh. Ia minta dibuatkan susu rasa ekaliptus. Ckckc, mungkin ada baiknya kalau getah ekaliptus itu yang dimasukkan ke dalam botol susunya si Tim, ya?
Tiga jam pelajaran berlalu dengan tawa renyai keempat sekawan itu. Saat salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk jalan-jalan ke mol, yang lain langsung setuju.
Mereka pun pergi ke mall yang hanya ditempuh sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kampus mereka. Setiba disana, Ay telah berdiri paling dulu di depan estalase Tasty Doughnut. Ia memang paling cepat dalam hal makanan (peace, Ay). Oops, talking about snack, Sar mana ya? Padahal kan dia Queen of snack (remember, ini Queen of Snack, not Queen of Snake. Ntar Sar ngamuk kalau kamu panggil dia begitu!). Diantara mereka berempat, Sar lah yang terlihat paling sehat (bilang makasih ya, Sar). Tapi menurut sejarah yang tercatat di Kitab Sarkertagama, Sar dulunya kurus. Dan…langsing. Wah, kalau begitu bagaimana bisa ia terlihat begitu, ekhem, sehat searang ya? This story will be talked in the next chapter, Guys. Please keep reading my short story (promosi mode on).
Kembali ke doughnut. Ketiganya mulai memilih doughnut kesukaan masing-masing. Ann mengitari estalase. “Semuanya terlihat enak. Kalau papaku yang punya foodmart ini, pasti kubeli semuanya,” katanya sambil mengetuk-ngetuk mulut. Lalu Ay menimpali,” Ya iyalah, kalau aku mah ga usah beli lagi. Makan aja sepuasnya. Wong punya papa kita juga. Ngapain dibeli lagi, Nona manis?,” timpal Ay.
“Maaf, dek, bisa dipercepat? Pelanggan lain sudah antri nih,” tiba-tiba si pelayan menegur mereka. Ann cepat-cepat menunjuk doughnut pilihannya, diikuti oleh Dy dan Ay. Dy tidak suka cream, makanya ia memilih doughnut yang bolong tengae. Doughnut ini tidak berisi cream.
“ Eh, kasirnya yang mana?,” Tanya Ann agak berbisik kepada dua temannya.
“ Nggak tahu. Kalau papaku yang jadi tukang kasirnya sih, nggak perlu bayar,” kata Ann lagi.
“ Hush.. kamu ini dari tadi membanggakan papamu aja. Emangnya papamu bisa menandingi papaku, eh? Papaku paling hebat di dunia,” Ay tak mau kalah.
“Papaku lebih hebat dari papa kalian,” ujar Dy mau show off –in papanya. Ga ada papa mana punyang bisa gantiin posisinya. Mau ada sayembara pun, ga ada yang bakal menangin sayembaranya buat jadi papaku.”
“Papamu tukang buat Undang-undang, ya? Soalnya dia suka-suka mengadakan sayembara,” ujar Ay.
“Ah, nggak lucu,” sungut Ann. Yang membuat sayembara kan Raja, bukan Tukang Buat Undang-undang. Weee..
“ Siapa juga yang bilang ini lelucon,” sungut Ay.
Ketiganya kemudian menuju sebuah restaurant di mall tersebut.
Ann dan Ay memesan nasi goreng biasa. Dy memesan nasi goreng kepiting.
“Makanan pembuka dulu yuk?,” ajak Ann sembari menyodorkan kotak doughnut yang mereka beli tadi. Ayo, jangan basa-basi. Gratis kok. Anggap aja doughnut sendiri,” katanya terkekeh.
“Tunggu dulu, bagusan kita foto dulu deh doughnutnya. Biar ntar dia bisa ngerelain dagingnya buat kita santap,” usul Dy.
“Uh, doughnut yang malang. Cantik-cantik jadi santapan manusia. Hihihi,” Ay melawak. Tapi sayangnya nggak ada yang tertawa :p
Ternyata makan sebiji donat sebagai makanan pembuka membuat ketiga gadis itu kenyang. “ Aduh, aku kenyang. Gimana nih?,” ujar Ay memegang perutnya.
“Ah, gampang. Bungkus aja nasi gorengnya. Ntar makan di rumah bareng kucing kamu. Katanya kamu punya kucing kesayangan,” Ann member saran.
“Ya, Ay, pake aja plastic donat ini. Ntar nyampe di rumah, panggil kucingmu dan mulailah makan bareng kalian beralasan plastik. Asyik kan?,” Dy turut mengusulkan pendapatnya.
“Aku bersedia menjadi kameramennya. Biar kita abadikan momen-momen terindah Ay dan kucingnya. Dengan nasi goring bungkus. Tanpa piring. Hanya beralaskan kantong plastic. Hemat tenaga buat cuci piring. Hahaha…,” Ann tertawa garing.
“Yang bener aja. Ntar pas aku jalan dari simpang ke rumahku aku jadi artis pujaan anjing-anjing tetanggaku yang galak-galak itu. Aku belum siap jadi artis buat kaum penyalak itu,” Ay hampir menangis membayangkan anjing-anjing itu memburunya.
“Oh, itu akan jadi hari yang sulit, Ay,” kata Dy mulai simpati. Tapi…
“Aha, aku punya ide bagus. Gimana kalau nasinya kamu habiskan disini aja? Nggak bakal ribet pastinya,” Ann berusaha meyakinkan temannya.
“Atau, begini saja. Kamu selundupkan nasi ini di bawah meja. Nanti malam, kamu kesini lagi dan ya, ambil nasi itu. Tunggu dulu suasana sepi, biar kamu gampang membawanya pulang.”
“Ya ampun, aku juga kenyang. Kupikir Ann benar, kita harus membungkus nasi ini Ay,” ujar Dy kepada Ay. Ay tergelak. Lalu ia berkata,“Aku akan menghabiskannya. Lihat, sedikit lagi kok,” katanya senang. Kamu? Ya ampun, masih banyak. Kalau kamu cukup baik dan berani, kamu bisa menawarkan orang-orang di resto ini untuk menghabiskannya. Katakan pada mereka, tolonglah, Tuhan akan membalas kebaikan kalian karena sudah tidak mubazir. Bagaimana?
“Sayangnya aku tidak sedang jadi orang baik sekarang”
“Oh, cepatlah bertobat, tahun 2012 sudah dekat!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar